Jumat, 07 Agustus 2009

Wujud Kecintaan Kepada Saudara Karena Alloh تعالى


Saudaraku rohimaniyallohu wa iyyakum. Kali ini, kita akan mempelajari bersama tentang wujud kecintaan kepada saudara karena Alloh سبحانه وتعالى .

Saudaraku yang budiman, berikut ini beberapa contoh yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga kita cintai bagi diri kita, adalah:

Yang pertama.Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

والذي نفسي بيده لايدخلواالجنة حتى تؤمنوا , ولاتؤمنواحتى تحابوا , أولاأدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم ؟ أفشوا السلام بينكم

Demi Alloh, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? (Yaitu) Sebarkanlah salam diantara kalian. ” (Hadits riwayat Al-Imam Muslim)

Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafazh salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh ( (السلام عليكم ورحمة الله وبركاته terdapat wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh keselamatan, rohmah, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada orang yang mendo’akan keselamatan, rohmah, dan barokah bagi dirinya. Semoga Alloh تعالى mengabulkan do’a tersebut.

Saudaraku, betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslim lain -baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal- kita senantiasa menyapa mereka dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a yang demikian?!

Kemudian yang kedua, bertutur kata yang menyenangkan dan mermanfaat

Saudaraku, dalam sehari bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita mengarah kepada ghibah ,menggunjing, bergosip. Nah saudaraku, seandainya, waktu tersebut kita gunakan untuk membicarakan yang bermanfaat, maka kita tidak akan menyesal.

Ketiga. Mengajak saudara kita untuk bersama-sama menghadiri majelis ‘ilmu

Selanjutnya yang keempat, Saling Menasehati, Baik Dengan Ucapan Lisan Maupun Tulisan

Mari kita simak ayat Al- Qur’an dan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم :

Dalam surat Al-A’rof ayat 68, Alloh سبحانه وتعالى berfirman tentang Nabi Nuh عليهم السلام :

öNà6äóÏk=t/é& ÏM»n=»yÍ În1u O$tRr&ur ö/ä3s9 îw¾¾$tRîûüÏBr& ÇÏÑÈ

“Aku menyampaikan amanat-amanat Robb-ku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagi kalian".

Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Ruqoyyah Tamiim bin Aus Ad-Daari rodhiyallohu’anhu, sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda:

الدين النصيحة , قلنا لمن ؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

”Agama itu adalah nasihat”. Kami (sahabat) bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: ”Untuk Alloh, kitab-Nya, rosul-Nya, pemimpin-pemimpin umat islam, dan untuk seluruh muslimin.


Hadits ini sangat penting, karena mengandung seluruh agama. Yaitu mengandung hak Alloh, hak rosul-Nya, dan hak hamba-Nya. Kewajiban penunaian hak-hak tersebut tekandung pada kata nasehat.

Saudaraku yang budiman. Nasehat untuk Alloh سبحانه وتعالى Adalah menunaikan hak Alloh seperti telah tersebut pada pembahasan iman kepada Alloh.

Nasehat untuk kitab-Nya. Adalah menunaikan hak kitab Alloh سبحانه وتعالى . seperti, yakin bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, mu’jizat terbesar di antara mu’jizat-mu’jizat yang pernah diberikan kepada para rosul, sebagai petunjuk dan cahaya. Dan juga membenarkan beritanya dan melaksanakan aturan hukumnya.

Nasehat untuk Rosul-Nya. Adalah menunaikan hak Rosululloh صلى الله عليه وسلم , sebagaiman tersebut dalam arti atau ma’na syahadat Muhammad Rosululloh, yaitu mengakui secara lahir maupun batin bahwa beliau صلى الله عليه وسلم adalah hamba Alloh Ta’ala dan utusan-Nya, yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekwensinya, berupa mentaati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Alloh Ta’ala kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

Nasehat untuk para imam. Kata imam jika disebutkan secara mutlak maka berarti penguasa, dan adakalanya kata imam berarti ulama. Nasehat untuk para imam, meliputi imam dengan kedua arti tersebut.

Nasehat untuk penguasa adalah menunaikan haknya, seperti, taat dalam hal yang ma’ruf, tidak taat dalam kemaksiatan, tunduk dan tidak membangkang dan lain-lain yang merupakan hak penguasa yang telah dijelaskan dalam kitab dan sunah. Nasehat untuk ulama adalah mencintai mereka karena kebaikannya dan jasanya pada umat berkat ilmunya, dan dakwahnya, menjaga kehormatan dan kewibawaannya serta menyebarkan fatwa- fatwanya.

Nasehat untuk awam kaum muslimin adalah memberikan semua yang menjadi hak mereka demi terwujudnya maslahat dunia dan akherat mereka.

Semua hak-hak tadi ada yang sifatnya wajib dan ada yang sunnah.

Keenam, Saling Mengingatkan Tentang Kematian, Yaumil Hisab, At-Taghaabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan), Surga, dan Neraka

Di antara bentuk kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah saling mengingatkan tentang kematian. Ketika saudaranya hendak berbuat kesalahan, ingatkanlah bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kita mati. Dan kita pasti tidak ingin bila kita mati dalam keadaan berbuat dosa kepada Alloh تعالى .

Saudaraku hadaaniyallohu waiyyaakum. Orang-orang yang saling mencintai karena Alloh akan mendapatkan kemuliaan di Akhirat. Terdapat beberapa Hadits Qudsi tentang hal tersebut.

Dari Abu Hurairah radhiyAlloh u ‘anhu, Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَيْنَ اْلمُتَحَابُّوْنَ بِجَلَالِيْ ؟ اليوم أظِلُّهم في ظلِّي يومَ لاظِلَّ إلا ظليْ إنَّ اللهَ تعالى يقولُ يَوْمَ القيامةِ :

Alloh berfirman pada Hari Kiamat, “Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku. ” Hadits riwayat Muslim.

Dari Mu’adz bin Jabal, ia mengatakan: “Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

اْلمُتحََابُّوْنَ فِيْ جَلالِيْ , لَهُمْ مَنَابِرُ منْ نورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّوْنَ والشُّهَدَاءُ قالَ اللهُ عزَّوَجَلَّ :

“Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka akan mendapatkan mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya yang membuat para Nabi dan orang-orang yang mati syahid”. (Hadits riwayat Al-Imam At-Tirmidzi.

Saudaraku yang budiman. Demikianlah perjumpaan kita kali ini. والله ولي التوفيق

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar