Kamis, 06 Agustus 2009

Sholat Gerhana Matahari & Gerhana Bulan)



Al-Hamdulillah, segala puja dan puji hanya milik Alloh عزوجل , Robb alam semesta alam beserta isinya. Fiqih Ringkas kali ini kita akan mempelajari bersama mengenai sholat gerhana.

Sholat gerhana matahari disebut sholat kusuf dan Sholat gerhana bulan dinamakan sholat khusuf. Kedua sholat tersebut merupakan sunnat mua’kkad, ya’ni sunnah yang ditekankan. Disunahkan bagi orang muslim untuk mengerjakannya. Kedua sholat tersebut sama sifat pelaksanaannya.

‘Aisyah رضي الله عنها bercerita, bahwa pada masa Rosululloh صلى الله عليه وسلم terjadi gerhana matahari, lalu beliau صلى الله عليه وسلم mengerjakan sholat bersama orang-orang. Maka beliau صلى الله عليه وسلم berdiri dan memanjangkan waktu berdiri, lalu beliau ruku dan memanjangkannya. Kemudian beliau berdiri dan memanjangkannya –berdiri yang kedua ini tidak se-lama berdiri pertama-. Setelah itu, beliau ruku dan memanjangkan ruku, ruku-nya ini lebih pendek dari ruku pertama. Selanjutnya, beliau sujud dan memanjangkannya. Kemudian beliau mengerjakan pada raka’at kedua seperti apa yang beliau kerjakan pada raka’at pertama. Setelah itu, beliau صلى الله عليه وسلم berbalik sedang matahari telah muncul. Lalu beliau berkhutbah kepada orang-orang. Beliau memanjatkan pujian dan sanjungan kepada Alloh تعالى . Dan setelah itu, beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Alloh. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut, maka hendaklah kalian berdo’a kepada Alloh, bertakbir, sholat dan bersedekah”. Setelah itu, beliau صلى الله عليه وسلم bersabda : “Wahai umat Muhammad, demi Alloh, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Alloh jika hambaNya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim.

Sisi dalil yang dikandung hadits tadi, bahwa perintah mengerjakan sholat itu berbarengan dengan perintah untuk bertakbir, berdo’a, dan bersedekah. Dan tidak ada seorangpun yang mewajibkan bersedekah, bertakbir dan berdo’a pada saat terjadi gerhana. Dengan demikian, menurut kesepakatan ijma’ bahwa perintah tersebut bersifat sunnah. Demikian juga dengan perintah untuk mengerjakan sholat yang berbarengan dengannya.


Adapun Sifat Dan Jumlah Rakaa’at Sholat Gerhana

Pertama : Tidak Ada Adzan Dan Iqomah Untuk Sholat Gerhana. Para ulama telah sepakat untuk tidak mengumandangkan adzan dan iqomah bagi sholat gerhana. Dan yang disunnahkan,4 adalah menyerukan untuknya: “ Ash-Sholaatu Jaami’ah ( الصلاةُ جامعة )”.

Argumentasinya, adalah apa yang ditegaskan dari ‘Abdulloh bin Amr رضي الله عنهما , dia bercerita : “Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rosululloh صلى الله عليه وسلم , diserukan : إِنَّ الصَّلاةَ جَامِعَةْ Hadits riwayat Al-Imam Al-Bukhori dan Muslim. 5


Selanjujtnya yang kedua: Jumlah Raka’at Sholat Gerhana. Sholat gerhana dikerjakan dua raka’at dengan dua ruku’ pada setiap raka’at. Yang menjadi dalil hal tersebut adalah hadits ‘Aisyah
رضي الله عنها yang telah kita sebutkan tadi. Dan juga hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas رضي الله عنهما , dia bercerita : “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rosululloh صلى الله عليه وسلم . Maka beliaupun berdiri dengan waktu yang panjang sepanjang bacaan surat Al-Baqarah. Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم ruku dengan ruku yang cukup panjang, lalu beliau bangkit dan berdiri dalam waktu yang lama juga- -tetapi lebih pendek dari berdiri pertama-. Kemudian beliau ruku dengan ruku yang lama –ruku yang lebih pendek dari ruku pertama-. Setelah itu, beliau sujud. Kemudian beliau berdiri dalam waktu yang lama –tetapi lebih pendek dari berdiri pertama. Selanjutnya, beliau ruku dengan ruku yang lama- ruku yang lebih pendek dari ruku pertama. Setelah itu, beliau sujud. Kemudian beliau berbalik, sedang matahari telah muncul. Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua dari tanda-tanda kekuasaan Alloh. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut, maka berdzikirlah kepada Alloh”. Para sahabat bertanya : “Wahai Rosululloh, kami melihatmu mengambil sesuatu di tempat berdirimu, kemudian kami melihatmu mundur ke belakang”. Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya aku melihat Surga, maka aku berusaha mengambil setandan (buah-buahan). Seandainya aku berhasil meraihnya, niscaya kalian akan dapat memakannya selama dunia ini masih ada. Dan aku juga melihat Neraka, aku sama sekali tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menyeramkan dari pemandangan hari ini. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita”. Para sahabat bertanya: “Karena apa, wahai Rosululloh?”. Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Karena kekufuran mereka”. Ada yang bertanya: “Apakah mereka kufur kepada Alloh?”. Beliau menjawab: “Mereka kufur kepada keluarganya (ya’ni kufur kepada suaminya), dan kufur terhadap kebaikan (atau tidak berterima kasih). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang waktu, lalu dia melihat sesuatu (kesalahan) darimu, niscaya dia akan mengatakan : “Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”. {Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori dan Muslim} 6

Nah saudaraku yang budiman. Dalam hadits Aisyah رضي الله عنها dan Ibnu Abbas رضي الله عنهما tadi terdapat dalil yang menunjukkan disunnatkannya khutbah dalam sholat kusuf, yang disampaikan setelah sholat. 7

Ketiga : Menjaharkan (atau mengeraskan) Bacaan Dalam Sholat Gerhana

Bacaan dalam sholat gerhana dibaca dengan jahr (ya’ni dengan suara keras), sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم .

Nabi صلى الله عليه وسلم menjaharkan bacaannya dalam sholat gerhana. Jika selesai dari bacaannya, beliau pun bertakbir dan ruku. Dan jika dia bangkit ruku, maka beliau berucap :

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ . Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم kembali mengulang bacaan dalam sholat kusuf. Empat ruku dalam dua rakaat dan empat sujud”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori dan Muslim. 8


Para ulama telah berbeda pendapat mengenai bacaan di dalam sholat kusuf. Ada yang berpendapat supaya dibaca pelan (dengan suara tidak terdengar). Dan ada yang berpendapat supaya mengeraskan bacaannya.

Namun saudaraku yang budiman, kita katakan bahwa apa yang sesuai dengan hadits, itulah yang dijadikan sandaran. 10

Selanjutnya sifat sholat gerhana yang Keempat : Sholat Gerhana Dikerjakan Berjamah Di Masjid. Yang sunnah dikerjakan pada sholat kusuf adalah mengerjakannya di masjid. Hal tersebut didasarkan pada beberapa hal:

Point pertama: Disyari’atkannya seruan di dalam sholat kusuf, yaitu dengan “Ash-Sholaatu Jaami’ah
Kedua: Apa yang disebutkan, bahwa sebagian sahabat mengerjakan sholat kusuf ini dengan berjama’ah di masjid.
11

Point ketiga: Isyarat yang diberikan oleh hadits Aisyah dan Ibnu Abbas رضي الله عنهما tadi, bahwa Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengerjakan sholat gerhana itu secara berjama’ah di masjid.12

Sifat sholat Gerhana Kelima : Jika Seseorang Tertinggal Mengerjakan Satu dari Dua Ruku Dalam Satu Raka’at. Sholat kusuf ini terdiri dari dua rakaat, masing-masing raka’at terdiri dari dua ruku dan dua sujud. Dengan demikian, secara keseluruhan, sholat kusuf ini terdiri dari empat ruku dan empat sujud di dalam dua rakaat. Barangsiapa mendapatkan ruku kedua dari rakaat pertama, berarti dia telah kehilangan berdiri, bacaan, dan satu ruku. Dan berdasarkan hal tersebut, berarti dia belum mengerjakan satu dari dua rakaat sholat kusuf, sehingga rakaat tersebut tidak dianggap telah dikerjakan. Berdasarkan ini, maka setelah imam selesai mengucapkan salam, maka hendaklah dia mengerjakan satu rakaat lagi dengan dua ruku.

Demikianlah kajian mengenai sholat gerhana. Semoga Alloh تعالى merizkikan kita ilmu yang bermanfaat. والله ولي التوفيق

http:.www. almanhaj. or. id,content,1938,slash,0#top

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar