Kamis, 06 Agustus 2009

PESAN UNTUK ORANG TUA


Percikan Iman kali ini mengenai pesan untuk orang tua.

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Setiap kalian adalah pemimpim, setiap kalian ialah pengurus. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawabannya atas atas kepemimpinan atau kepengurusan kalian.

Pendengar rohimaniyallohu wa iyyaakum. Setiap orang tua pasti menginginkan anak mereka sukses dalam studi, sehingga do’a pun tidak pernah henti-hentinya mereka panjatkan kepada Alloh عزوجل untuk kesuksesan tersebut, di samping itu, mereka menyiapkan semua kebutuhan dan fasilitas yang mendukung kesuksesan tersebut.

Begitu besar perhatian para orang tua terhadap studi, masa depan, dan urusan-urasan dunia anak-anak mereka. Mereka benar-benar merasa bertanggung jawab akan hal tersebut. Namun sayangnya mereka tidak memiliki perhatian dan rasa tanggung jawab atas akhirat anak-anak mereka sebesar perhatian dan rasa tanggung jawab atas dunia anak mereka. Begitu pula dengan perhatian mereka terhadap nasib anak-anak mereka setelah kematiannya, boleh jadi tidak seperti perhatian mereka akan ketentraman dan kebahagian mereka di saat hidup di dunia. Tanggung jawab para orang tua terhadap anak-anak mereka seakan hanya terbatas pada perkara dunia yang akan hancur, dan terkesan mereka mengabaikan perkara akhirat yang abadi.

Terbukti bahwa sebagian besar para orang tua memiliki cita-cita dan harapan agar anak mereka dapat menjadi seorang dokter, insinyur, pilot, tentara, dan lain-lain. Intinya adalah harapan duniawi belaka. Mereka beranggapan dengan semua itulah anak-anak mereka dapat hidup dan meraih kebahagian. Dan terbukti pula dari rasa kecewa yang sangat, seandainya anak mereka terlambat mengikuti ujian, sehingga mereka harus rela tidak tidur agar anaknya tidak terlambat dan tertinggal pada saat ujian sekali lagi, hanya untuk sebuah kesuksesan dan masa depan sang anak. Tetapi jarang di antara para orang tua yang menyesal dan kecewa, saat anak mereka terlambat sholat Subuh seperti penyesalan dan rasa kecewa mereka tatkala anak mereka tertinggal ujiannya atau gagal dalam ujian. Bahkan setiap hari para orang tua selalu bertanya kepada anak-anaknya tentang ujiannya. Apa yang mereka kerjakan, bagaimana mereka menjawab, dan semoga jawabannya benar? Apakah mereka pernah bertanya kepada anak mereka setiap harinya tentang perkara agamanya? Sudah sholat belum? Dengan siapa berteman? Dan apakah pernah bertanya kepada anak-anak mereka saat mereka tidak ada di rumah seharian?

Para orang tua merasa begitu terpukul dan merasa gundah gulana, ketika mereka tahu bahwa anak-anak mereka bermalas-malasan dalam ujian. Akan tetapi tidak bersedih dan tertuntut ketika anak-anak mereka bermalas-malasan dalam menjalankan aturan dan hukum Alloh عزوجل dan Rosululloh صلى الله عليه وسلم .

Sedikit sekali di antara para orang tua yang memikirkan untuk anak-anak mereka tentang ujian yang tidak memiliki gelombang kedua. Tidak dapat diulang jika gagal. Pilihan yang ada hanyalah lulus atau gagal. Gagal berarti dimasukkan ke dalam neraka. Ini juga artinya adalah kerugian yang nyata dan siksa yang hina. Apakah mungkin ijazah, sertifikat prestasi, piagam penghargaan, kedudukan dan kekayaan dapat menyelamatkan mereka dari adzab Alloh سبحانه وتعالى . Apakah kedudukan dan kekuasaan yang mereka peroleh, bisa memberi syafa'at ketika mereka menerima kitab catatan amal dengan tangan kiri mereka? Kemudian berteriak dengan sekencang-kencangnya. Sebagaiman firman AllohTa`ala:

$pktJøn=»tƒ ÏMtR%x. spuÅÊ$s)ø9$# ÇËÐÈ !$tB 4Óo_øîr& ÓÍh_tã 2÷muÏ9$tB ÇËÑÈ y7n=yd ÓÍh_tã ÷muŠÏZ»sÜù=ß ÇËÒÈ

Yang artinya: “Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku”. Surat al-Haaqqoh: 27-29.

Teramat langka rasanya kalau ada orang tua yang bersungguh-sungguh mencarikan seorang guru privat atau ustadz, untuk mengajari anak-anak mereka Al-Qur'an dan As-Sunnah. Orang tua saat ini dalam mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang kepada anak mereka berupa menyiapkan untuk mereka rumah yang penuh dengan hiburan-hiburan yang diharamkan dan melalaikan mereka dari mengingat Alloh عزوجل dan ta'at kepada-Nya.

Maka hendaklah kita sebagai orang tua, benar-benar memperhatikan kehidupan akhirat anak kita.

Adapun langkah-langkah yang harus kita lakukan dalam hal ini di antaranya :

Pertama: Memperbaiki diri kita sendiri, sehingga kita benar-benar menjadi orang tua yang sholih dan patut untuk diteladani. Karena pada kesholihan kita, anak-anak akan istiqomah dan senantiasa dijaga oleh Alloh عزوجل . Alloh سبحانه وتعالى berfirman, yang artinya: "Sedang ayahnya adalah seorang yang sholih". (QS. al-Kahfi: 82).

Kedua: Menjadikan Tarbiyah Islamiyah (pendidikan Islam) sebagai tujuan utama dan orientasi kita dalam mendidik anak-anak, dan bukan berarti melarang mereka untuk belajar ilmu-ilmu tehnik keduniaan. Hanya saja porsi yang diberikan tidak sebesar perhatian kita kepada akhirat mereka.

Ketiga: Hendaklah kita bertaqwa kepada Alloh سبحانه وتعالى dalam menjaga kemashlahatan mereka baik dunia maupun akhirat, karena anak-anak adalah amanah yang akan Alloh تعالى minta pertaggung-jawabannya.

Hendaknya orang tua memperhatikan kisah Luqman yang diabadikan Alloh tabaraka wa ta`ala dalam Al-Qur'an tentang wasiat yang ia sampaikan kepada anaknya tercinta. Betapa Luqman menyeru anaknya kepada sesuatu yang membuatnya dapat meraih kebahagian hidup yang hakiki serta menyelamatkannya dari adzab yang pedih, yakni melarang anaknya dari berbuat syirik atau menyekutukan Alloh تعالى .

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku,janganlah kamu mempersekutukan Alloh. Sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezholiman yang besar". Surat Luqman ayat 13.

Ia menunjukkan kepadanya bahwa yang dapat menyelamatkan dari adzab Alloh عزوجل adalah dengan menjauhkan syirik dan bersegera mengerjakan ibadah kepada Alloh تعالى dengan mendirikan sholat, memerintahkan pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$#

“Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar. Surat Luqman ayat 17.

Juga menyuruhnya untuk berakhlak yang baik, yang dengannya dia akan menjadi. melarangnya bersikap sombong terhadap manusia. Alloh تعالى menegaskan, yang artinya: "Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Surat Luqman ayat 18.

Keempat: Hendaklah orang tua mengetahui dan mengajarkan anaknya bahwa dunia ini tidak kekal. Dan bahwa kusuksesan yang hakiki adalah membatasi diri dan keinginan hanya pada sesuatu yang diridhoi Alloh تعالى , bertakwa dan ta'at kepada-Nya.

Langkah yang kelima: Hendaknya orang tua bersungguh-sungguh dalam mendidik mereka dari hal-hal yang merusak serta tidak menyia-nyiakan mereka.

$oY­/u ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurør& $oYÏG»­ƒÍhèŒur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur šúüÉ)­FßJù=Ï9 $·B$tBÎ)

والله ولي التوفيق

Oleh: Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi

Sumber: Disadur dari artikel yang berjudul “Risalah Ila Ba’dhi al-Abaa”,

Daar al-Qasim, Riyadh Muraji’: Abdulloh bin Abdur-Rohman al-Jibrin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar