Kamis, 06 Agustus 2009

Sebab-sebab pemalsuan Hadits


Saudaraku yang budiama rohimaniyallohu wa iyyakum, berjumpa kembali dalam rubrik ensiklopedi Islam, dan di kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan membahas sebab-sebab pemalsuan hadits. Yang mana hal ini muncul dari orang-orang bodoh yang terdorong oleh adanya perbedaan politik maupun aliran, sehingga berani melakukan kedustaan, dan memalsukan hadits atas nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم . Padahal ancaman bagi pelaku pemalsuan hadits adalah sebesar-besar dosa dan seburuk-buruk perbuatan. Bahkan terjerumus dalam kekafiran yang sangat besar.

Pendegnar yang budiman. Yang dimaksud dengan berdusta atas nama Nabi صلى الله عليه وسلم , adalah menyandarkan sesuatu kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم ,baik berupa perkataan, perbuatan atau taqriri (persetujuan beliau atas perbuatan atau perkataan sahabat), dan segala sesuatu yang disandarkan kepada beliau صلى الله عليه وسلم , dengan cara berbohong atas nama beliau صلى الله عليه وسلم .

Saudaraku yang budiman hadaaniyallohu wa iyyakum. Adapun sebab-sebab yang membawa para pendusta untuk memalsukan hadits-hadits atas nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم banyak sekali. Diantaranya :

Yang pertama, Kaum Zindiq

Yakni mereka yang berpura-pura Islam, tetapi sesungguhnya mereka adalah kafir dan munafiq yang sebenarnya. Mereka adalah kaum yang sangat benci terhadap Islam, dan bertujuan merusaknya dari dalamnya dengan beragam cara. Diantaranya membuat hadits-hadits palsu. Lalu mereka tampil di tengah-tengah umat menyerupai Ulama, kemudian mereka sebarkan hadits-hadits buatan mereka dengan memakai nama Nabi صلى الله عليه وسلم .

Hammad bin Zaid seorang Atba'ut Tabi'in besar (wafat tahun 190 H) mengatakan : "Kaum Zindiq telah memalsukan (hadits) atas (nama) Rosululloh صلى الله عليه وسلم sebanyak empat belas ribu hadits".

Kemudian sebab yang kedua. Suatu kaum yang memalsukan hadits karena mengikuti hawa nafsu.

Mereka mengajak manusia mengikutinya untuk menyalahi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti : fanatik madzhabiyah, golongan, atau fahamnya, berlebihan terhadap Imam-imamnya.

Hammad bin Salamah (Atba'ut Tabi'in wafat 167 H) berkata: "Telah mengabarkan kepadaku seorang syaikh dari Rofidhoh (Syi'ah), sesungguhnya mereka berkumpul (sepakat) untuk memalsukan hadits-hadits".

Yang ketiga, yakni suatu kaum yang memalsukan hadits-hadits untuk tujuan yang baik menurut persangkaan mereka. Mereka membuat hadits-hadits palsu tentang targhib dan tarhib, nasehat-nasehat dan lain-lain. Mereka berkata, kami tidak berdusta untuk merusak (nama atau Syari'at) Nabi صلى الله عليه وسلم , tetapi untuk kebaikan beliau صلى الله عليه وسلم

Argumentasi mereka tadi menurut Ibnu Katsir r رحمه الله تعالى , menunjukkan sempurnanya kebodohan mereka, sedikitnya akal mereka, banyaknya dosa dan kebohongan mereka, karena Nabi صلى الله عليه وسلم tidak butuh kepada orang lain untuk kesempurnaan syariat dan keutamaannya. Mereka itu kaum yang menyandarkan diri mereka kepada zuhud dan sufi.

Selanjutnya sebab yang keempat, adalah tukang-tukang cerita

Mereka yang memalsukan hadits-hadits dalam cerita-cerita mereka, untuk mencari uang dan supaya orang-orang awam (umum) takjub atauterkesima.

Keenam, Suatu kaum yang membolehkan memalsukan hadits untuk setiap perkataan yang baik.

Kemudian yang ketujuh. Yaitu suatu kaum yang memalsukan hadits untuk kepuasan hawa nafsu para penguasa dan mendekatkan diri kepada mereka.

Dan sebab yang membawa para pendusta untuk memalsukan hadits-hadits atas nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang kedelapan adalah suatu kaum yang memalsukan hadits pada waktu-waktu yang diperlukan. Seperti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, membela faham,pendapat, mencela atau marah kepada seseorang dan lain sebagainya.

Saudaraku yang budiman rohimaniyallohu wa iyyakum. Selanjutnya adalah kita akan menjelaskan tentang perkataan-perkataan atau lafadz-lafadz yang gunakan oleh para pemalsu hadits.

Saudaraku, para pendusta atau pemalsu hadits dalam memalsukan hadits, mereka menggunakan beberapa perkataan atau lafazh, diantaranya :

Pertama, mereka menyusun perkataan sendiri, lalu mereka sandarkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم

Kedua, mereka mengambil perkataan-perkataan ahli hikmah, orang-orang shalih, atau cerita-cerita Israiliyat dan lain-lain.

Dan yang ketiga, hadits yang dho'if sanadnya, kemudian mereka susun dan hiasi (yakni mereka palsukan) menjadi shahih sanadnya.

Saudaraku yang budiman. Adapun tanda-tanda atau ciri-ciri hadits maudhu’ atau palsu. Diantara tanda-tanda bahwa hadits itu maudlu' ataupalsu, adalah:

Yang pertama, pengakuan dari pemalsu itu sendiri.

Kemudian yang kedua, terdapat keganjilan dan rusak maknanya,

Ketiga adalah, bertentangan dengan apa yang telah tsabit dari Al-Kitab dan As-Sunnah. dll.

Selanjutnya ciri hadits palsu yang keempat, yaitu setiap hadits yang menda’wakan bahwa para shohabat رضي الله عنهم untuk menyembunyikan sesuatu dan tidak menyebarkannya. Dan saudaraku, masih banyak lagi ciri-ciri hadits palsu yang tidak kita sebutkan di kesempatan ini.

Saudaraku yang budiman, tidaklah mudah untuk mengetahui hadits itu maudlu', dan bukan sembarang orang yang dapat menentukannya, kecuali Imam-imam ahli Hadits dan ulama-ulama yang mahir dan luas pengetahuannya tentang Sunnah.

Adapun mereka yang tidak punya ilmu hadits yang mulia ini (As-Sunnah atau Al-Hadits), mereka hanya melemahkan atau menentukan hadits palsu karena hawa nafsu dan pendapat-pendapat mereka yang bathil dan menyalahi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka yang sehari-hari menggugat Sunnah yang shahih, maka mereka yang zhalim, penentang-penentang sunnah shahihah ini, sama sekali perkataannya tidak boleh didengar, dan wajib ditentang dan dibuka kelemahan mereka serta memberikan penjelasan kepada umat akan tipu daya mereka yang sangat berbahaya.

Pedenagar yang budiman hadaaniyallohu wa iyyakum. Meskipun hadits-hadits itu telah banyak dipalsukan orang dan tidak sedikit hadits-hadits shahih didustakan, ditolak dan digugat, tetapi Alloh سبحانه وتعالى tetap memelihara dan menjaganya, sebagaimana firman-NYa :

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm:

Yang artinay, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan peringatan ini (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya". (Al-Hijr : 9)

Saudaraku yang budiman, sewaktu ‘Abdulloh bin Mubarok (seorang Imam Mujahid besar dari Thobaqoh Atba'ut Tabi'in, wafat tahun 181 H) ditanya tentang hadits-hadits maudlu' atau palsu, maka beliau رحمه الله تعالى menjawab bahwa nanti akan hidup orang-orang yang ahli dalam hadits yang akan membela (menjaga dan mempertahankannya), kemudian beliau membaca firman Alloh

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm:

Yang artinya, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan peringatan ini (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya". (Al-Hijr : 9)

Pemeliharaan terhadap Hadits atau Sunnah itu dimulai dari Thobaqoh atau tingkatan pertama, yaitu para Shohabat رضي الله عنهم . Thobaqoh atau tingkatan kedua dan ketiga yaitu : Tabi'in dan Atba'ut Tabi'in, kemudian datang Thobaqoh keempat dan seterusnya. Maka bangkitlah Imam-imam Sunnah yang telah menyediakan hidup dan umur mereka untuk membela Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم Mereka itulah Salafus Shalih dan Tha'ifah Manshurah yang selalu akan ada dalam umat ini, hingga yaumil-qiyamah.

Saudaraku yang budiman, demikianlah kebersamaan kita kali ini. والله ولي التوفيق

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar